Langsung ke konten utama

Postingan

Kesempatan yang Hilang

Kepalaku sedikit berat, mataku berdenyar dan belum seluruhnya menangkap bayangan di sekitar. Aku merasakan de javu di detik berikutnya. Ada meja putih di sudut dengan tumpukan buku-buku tebal, dinding yang dipenuhi rak berisi novel-novel klasik Lucy Montgomery, Jane Austen, dan Leo Tolstoy. Bukan saja serinya yang lengkap, tapi judul yang sama dari beberapa penerbit. Siapa pula yang suka membeli buku yang sama dengan hanya berbeda pengalih bahasa saja. “Beda penerjemah, beda lagi rasa membecanya, lo! ” Ah, siapa itu yang selalu berbicara tentang the art of story telling dengan mata berbinar selain dia. Ah, kuperhatikan jendela dengan tirai warna dasar putih bermotif abstrak hitam dan merah. Semakin karib di memori. Penyuka warna putih dan hitam. Monokrom... “Oh, Sa! Kamu sudah bangun? Duh, maaf Ibu juga ketiduran!" Ibu...kok? di mana ini? Aku   menyipitkan mata dan coba memanggil semua ingatan yang ada. “Ayo, sudah sore. Ibu lihat kamu dari tadi tidur t...

Sekar dan Aku

“Kakak nggak pernah ngalamin, sih. Jadi mungkin nggak tahu gimana rasanya. Bang Luhur orangnya baik, setia, romantis...” kata Sekar sambil menyeka hidungnya. Ia masih saja sesenggukan pilu. Kami memang sudah janji subuh tadi untuk bertemu di kafe ini sore. Sengaja mengambil meja paling sudut dan paling sepi di ruangan yang kaca depannya ditempel stiker ‘No Smoking Area’. “Iya... tapi, kan, dia sudah minta maaf dan menjelaskan situasinya bagaimana,” bujukku menenangkan. “Aku udah maafin, Kak. Asalkan jangan diulang lagi. Cukup sudah berhubungan dengan teman lama, mantan, entah apalah namanya itu. Sakit rasanya, nggak bisa lupa sampai hari ini. Bayangkan, Kak, aku yang lantang-luntung ngurusin rumah, anak, masak. Nggak pernah tuh, dia WA nanya ‘sudah makan?’ Kirim emoji kayak begitu... Nah, sama perempuan itu?” Aku mengelus punggung tangan Sekar. Mencoba menenangkannya dan berempati padanya. Suaminya tergelincir, menurutku tak separah itu. Hanya menyapa teman-teman lamanya...

PENANGGUNG DERITA MASA LALU

            “Jadi, ini ya, istrinya?” tanya wanita cantik di depanku. Dalam dekapannya ada seorang bayi belum genap setahun tak kalah menggemaskan. Bisa kupastikan umur wanita itu mendekati kepala tiga. Kudengar ia memang paling populer di sekolah suamiku dulu.             Aku tersenyum sopan sambil mengulurkan tangan, atau tepatnya membalas uluran tangannya dan menggumamkan namaku “Yasmine ...”             Percakapan basa-basi itu bertahan cukup lama. Berapa anggota keluarga, aktivitas harian dan di mana tinggal saat ini. Aku yang sejak tadi menjawab seadanya, ditimpali  sedikit guyonan suamiku. Maklum saja, ini reuni, tak ada yang formal, semua berusaha secair mungkin, tak ubahnya dulu ketika masa-masa SMA yang tak terlupakan. Bagiku sendiri, ini bukanlah hal yang sulit. Sejak awal menikah kami sudah terbi...

DOMPET HITAM, JILBABER, DAN MUSALA KAMPUS

“Kak!” sebuah suara yang entah milik siapa, “Kak, ada ngeliat dompet hitam, nggak?” Sadar pertanyaan itu ditujukan padaku, aku mencoba menghentikan langkah sejenak dan mulai menolehkan wajah ke belakang. Hanya memutar separuh badan, sebab aku musti gegas menuju masjid, kajian sekaligus rapat sore itu hampir dimulai. Kuamati sebentar sosok anak lelaki di belakangku. Seorang mahasiswa, memakai  kemeja dan jeans hitam, ransel, sepatu kets putih dengan motif garis coklat di sampingnya. Jerawatan, tipikal kulit berminyak, lengkap dengan rona memelas menghias wajahnya. “Maaf, nggak ada,” jawabku sekenanya sambil mulai mengambil aba-aba untuk mulai melangkah lagi. Matahari sepenggalah. Siang di bulan Juli itu cukup terik, jalanan di samping Lapangan Tugu sepi sekali. Lain lagi kalau sudah sore, di sepanjang pinggiran Lapangan Tugu Darussalam, berderet gerobak-gerobak sorong aneka minuman dan makanan. Dari mulai cendol, air kelapa muda, es krim, siomay, bakso goreng, dan lain...

Air Mata Itu Milik Wafa

Kubaca ulang SMS Ita yang masuk tadi pagi, “ Yun, kamu bener butuh kerjaan kan? Sama aku ada, nih. Pokoknya gaji balance sama kerjaan... ” Hingga malam ini, pesan singkat itu belum kubalas. Sejak awal kuliah aku memang sudah terbiasa bekerja part time , tapi dua bulan belakangan ini terasa makin tak nyaman bekerja di toko Pameo, sebuah toko khusus menjual segala macam aksesoris perempuan.             Seminggu cuma bengong saja di kampung halaman, sementara jadwal kuliahku melompong karena aku masih nonaktif. Aku pikir tak ada salahnya menanggapi tawaran Ita, jadi kutanyakan langsung saja jenis pekerjaannya.             “ Yee, dari kemarin aku tunggu balasan kamu, Yun. Jd bb sitter, mau kan? ” balas Ita beberapa menit kemudian. Sepertinya ia memang sudah menunggu tanggapan dariku. Hm, kalau sekedar jadi nanny , insya Allah aku bisa. Bukan hanya karena latar belakang ...

Biyya, Rumput Laut Kering dan Jihyeon

Bermula dari Jihyeon yang memberikan sebungkus seaweed hari itu, aku jadi tahu kalau Biyya loves seaweed that much ! Hahaha.... Selama enam bulan yang mengesankan Jihyeon akan menjadi tetangga kami. Kami menjadi keluarga angkatnya, dia anak gadis yang luwes dan mudah menyesuaikan diri. Tidak cerewet dalam semua hal, karena memang sudah menjadi tugasnya sebagai relawan di panti kami tercinta. Biyya dan Akib punya sudara angkat yang berbeda bahasa tapi aku benar-benar tak menyangka mereka begitu cepat dekat satu sama lain. Jihyeon bersaing dengan Biyya untuk bisa berbahasa Indonesia, Jihyeon memang punya selera humor yang baik, waktu dia bercerita tentang ide itu, kami tertawa bersamaan. Setiap hari dia akan mengecek kemampuan Biyya, melebihi dia atau tidak. Bayangkan, dari anak bayi pun tak mengapa, asalkan tujuan positif itu bisa dicapai. Salah satu poin yang kupelajari dari gadis Korea itu. Rumput laut itu yang selalu dipakai untuk membuat onigiri. Lebih popule...