Langsung ke konten utama

Postingan

Raut Innocent dan Sebilah Belati

Raut Innocent dan Sebilah Belati Kau perhatikananak itu, dengan setelan denim kusut yang dikenakannya, belati kecil di genggaman, dia siap melukaimu. Tatapannya yang liar seolah membakar. Jangan kau pegang terlalu erat, sebab dia akan kesakitan dan meronta. Tapi ingat! Di tangannya belati yang siap melakuimu saat kau lengah. Lagi-lagi mata itu. Andainya itu api, sudah sejak tadi aku terbakar hangus. Puncak rasaku mati. Ketika meregang kurasakan seluruh tubuhku luka. Kucoba mengencangkannya lebih erat lagi dan lagi. Tubuhku sakit menahan liukan tubuhnya yang liat dan licin berpeluh. Dia meronta. Ah, aku perih, lelah, sakit! Tapi aku kasih... Dan rasa itu membuatku lemah. Tapi aku iba... Rasa itu membuatku kalah. Tubuhku kuyup oleh peluh dan darah. Kukira setelah remuk itu dia akan berkemas pulang. Lengkap dengan belati bersimbah darah. Tatapannya berubah kini, antara puas dan bingung. Kukira dia akan berkemas pulang. Yah, mungkin saja. Tapi aku tak tahu. Sekelilingku gelap. Ra...

Dalam Kasih Ibu

Buku ini didedikasikan buat Umak tersayang. Selamat Hari Ibu. Ini cover buku perdana Aini,masih buku keroyokan. Bisa dicari di Gramed atau toko buku terdekat. Walau nggak menang, sempat masuk Anugerah Pembaca Indonesia 2011 Goodreads Indonesia

Aku Bukan Malaikat

"Luar biasa kamu, Ain. Salut, deh, lihat dirimu, Ni." Kalimat senada jadi sering singgah di telingaku belakangan ini. Bahkan yang lebih ekstrim dari kalimat di atas, “ Aini, you know angel? ” tanya Gue Ri malam perpisahan itu. Teman-teman Korea lainnya menatap lurus ke arahku. Hie Jin membulatkan kedua matanya sambil tersenyum mengangguk. “Enje?” ulangku belum begitu faham. Malam itu, walaupun senang, lelah dan penat meminta tubuhku berjeda sejenak. Aku terserang flu setelah sepuluh hari “bersenang-senang” mengurusi panti dengan tambahan puluhan personil relawan Korea. “ Yeah, angel! ” ulang Gue Ri sambil menggoyangkan kedua tangannya menirukan sayap. “It’s you, you like an angel!” Tawaku pecah. Aku menggeleng kuat dan yakin. “ I don’t think so ,” jawabku tak setuju. Kukatakan kalau ia terlalu berlebihan. Ya, berlebihan. Aku tuliskan cathar kali ini dengan hati bergelayut mendung, perasaan sakit dan bersalah. Bagaimana mungkin makhluk sedhaif aku dinilai sedem...

WILLI WINKIE

Wee Willi Winkie runs through the town. Upstairs, downstairs in his nightgown. Tapping at the window, crying through the lock. “Are all those children in their beds? Its’s past eight o’clock! ” (Talkabout Bedtime, Keen) Buku Ladybird ini kubahasakan sendiri, sampai ke bagian ini, Akib mulai bertanya banyak hal. Tentu saja aku harus berhenti membaca dan menjawab pertanyaan Akib satu-satu. “Willi Winkie itu tinggal dimana, Nda? Di hutan ya?” “Mungkin juga, atau di pinggir kota” “Untuk apa dia ketuk-ketuk jendela?” “Di buku ini, katanya untuk menge-cek semua anak-anak. Udah pada tidur atau belum.” “Menge-cek itu diapakan, Nda?” Ups, aku kelepasan! Memakai kata-kata yang belum kukenalkan padanya. Di sini aku juga mulai membaca gelagat imajinator ini. Sepertinya dia berpikir akan ada hal yang negatif dengan kata-kata tersebut “Memeriksa setiap rumah yang ada anak kecilnya. Dia mau tau, udah bobo atau belum... Menge-cek itu, artinya memeriksa.” “Oh... Terus, kalau belum bobo, kenapa...

LOVE FOR A REASON

Ung..., sepertinya ada yang sedikit mengganjal. Sekedar pikiran yang melintas sesaat, unek-unek, atau apalah namanya. Tapi sepertinya asik juga kalau dibahas sedikit. Berawal dari postingan beberapa kawan-kawan yang sangat menyenangkan di sebuah grup (ini jujur, lho. Grup favorit saya dan seringkali alasan saya mengecek FB adalah untuk singgah di grup ini. Untuk sekedar membaca, memberi ‘like’, atau kalau perlu memberi komentar). Ada beberapa link di-share, artikel yang berbau-bau Korean. Kemudian memanggil beberapa nama, atau sekedar menuliskan “bagi yang gila Korea, perlu baca, nih!”. Nah, seingat saya ada yang bercerita tentang wanita Korea yang sulit menikah, ada juga berita heboh mengenai bintang Korea yang gemar sekali bunuh diri. Kayaknya udah jadi semacam trend gitu, deh. Sebenarnya tulisan ini dibuat bukan untuk membela, menyela, ataupun sebuah sikap antipati sama siapa saja yang udah mau berbaik hati membagikan link yang saya ceritakan di atas. Bukan juga sebuah pembela...

SHOPPING DAY? OWH, NO!

Aku ini wanita yang paling bahagia sekaligus menyedihkan. Bayangkan saja, sampai hari ini, menjelang usia pernikahan kami yang keenam, aku belum bisa berbelanja sendiri. Baik itu belanja di pasar tradisional, pasar swalayan, pasar loakan, bahkan pasar kaget! Terkecuali pasar buku ( Buahahaha...) bukan sok mata-bukuan, tapi kalau buku, aku paling pinter deh, ngabisin duit. Dari beli ke Tobuknya, beli onlen, sampai beli langsung ke penulis ( hihihihi....) kalau yang ini biar dapet ttd penulisnya sekalian. Norak ah! Jadi malu... (tersipu-sipu). Nah, percaya atau nggak, aku, tuh, pernah nyasar di pasar tradisional, pernah salah beli di pasar swalayan, sering kikuk kalau belanja obralan. Jadi wajar saja kalau penampilanku rada keki. Dulunya pas mahasisiwi, aku beli pakaian di toko baju pria atau swalayan. Tepatnya di deretan outlet kemeja. Deretan baju cewek yang “bunga-bunga dimana-mana” itu paling jarang kusentuh. Tak kupingkiri, terkadang ada juga satu, dua yang sempat kulirik. Tapi d...

Dia Inspirasiku

Aku tak mungkin jadi seperti ini tanpa dukungan suamiku. Bukan berarti aku mengatakan saat ini aku adalah orang yang paling sukses di sebuah bidang atau di berbagai bidang. Terlepas dari paradigma sukses yang terbingkai di kepala banyak orang jaman sekarang, aku benar-benar merasa diriku wanita yang bahagia lahir batin. Satu lagi, bukan berarti aku mengabaikan keterlibatan kedua orangtuaku dalam hal ini. Jasa mereka tak mungkin kusebut satu-persatu dan terimakasihku ada di setiap hela nafas, begitu juga buat keluarga. Tapi aku tegaskan sekali lagi, aku menjadi seperti ini tak lepas dari cinta dan support suamiku. Aku ingin menginspirasi sepanjang hayatku karena imbas pribadi suamiku yang sangat menginspirasi. Aku bukan siapa-siapa tanpa ia. Bagaimana caranya menghiburku, mengusir galau dan gelisahku, memupuk cinta dan membesarkan hatiku, bersabar atas keterbatasan yang aku punya, semuanya membuatku takjub. Pribadi yang sederhana dan hemat kata, sekali lagi, ia adalah anugerah terinda...